A. Judul
“Pengaruh Ekstrak Daun Sirih dan Ekstrak Daun Jambu Biji Terhadap Pengobatan Ikan Jelawat ( Leptobarbus hoeveni ) Yang Terserang Bakteri Aeromonas hydrophila”

B. Latar Belakang Masalah
Ikan Jelawat ( Leptobarbus hoeveni ) merupakan salah satu ikan asli Indonesia yang terdapat di beberapa sungai air tawar di Kalimantan dan Sumatera. Permintaan pasar terhadap ikan ini cukup tinggi dan mempunyai nilai ekonomis tinggi dan sangat digemari oleh masyarakat dibeberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei, sehingga merupakan komoditas yang sangat potensial dan mendorong minat masyarakat untuk mengembangkannya.
Usaha budidaya ikan tidak terlepas dari adanya berbagai penyakit baik yang bersifat virus, bakteri maupun jamur. Penyakit ikan merupakan salah satu kendala dalam usaha budidaya pada tingkat pembenihan maupun pembesarannya. Adanya penyakit ikan merupakan interaksi antara jasad patogen (parasit), ikan (inang) dan lingkungan. Kondisi kualitas air yang kurang baik dapat menyebabkan ikan menjadi cepat stress dan berbagai penyakit mudah menyerang ikan. Secara ekonomi masalah penyakit ikan sangat penting artinya karena dapat merugikan usaha yang disebabkan oleh kematian total, penurunan produksi dan penurunan kualitas ikan. Usaha pencegahan terhadap penyakit yang dipelihara jarang dilakukan, pembudidaya ikan hanya berjaga-jaga dengan mengurangi produksi pada pertengahan musim panas karena debit air kurang dan kualitas air menurun.
Aeromonas hydrophila merupakan bakteri yang secara normal ditemukan dalam air tawar. Infeksi Aeromonas hydrophila dapat terjadi akibat perubahan kondisi lingkungan, stress, perubahan temperatur, air yang terkontaminasi dan ketika host tersebut telah terinfeksi oleh virus, bakteri atau parasit lainnya (infeksi sekunder), oleh karena itu bakteri ini disebut dengan bakteri yang bersifat patogen oportunistik. Ikan yang terserang bakteri ini di tandai dengan kehilangan nafsu makan dan gerakan berenangnya mulai tidak teratur yang akhirnya ia akan muncul dan berenang di permukaan air. Ikan yang terserang secara eksternal akan mengalami pendarahan yang selanjutnya menjadi borok (haemorrhage) pada sirip perut dan ekor serta bagian anus. Secara internal usus dan lambung mengalami hyperemia yang akhirnya terkikis. Hati ikan yang terserang penyakit ini menjadi tidak berfungsi. Serangan lebih lanjut rahang bawah akan mengalami luka dan borok.
Pengobatan ikan yang terserang bakteri dapat di lakukan dengan penggunaan ekstrak daun sirih dan ekstrak daun jambu biji, kandungan minyak asiri pada daun sirih dan daun jambu biji yang kaya akan chavikol menjadikannya bermanfaat sebagai anti bakteri dengan daya mematikan bakteri. Penyuluhan KP (2009) mengatakan, Daun sirih 2 gr dan 0,2 gr daun jambu biji pada 60 ml air dapat mengobati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele.
Bahan ini mudah didapat dan tersedia di alam kapan pun diperlukan serta tidak menimbulkan dampak negatif pada ikan maupun para konsumen yang mengkonsumsi ikan tersebut. Penggunaan tumbuhan obat tradisional dalam pencegahan dan pengobatan penyakit ikan memiliki kelebihan antara lain mudah diperoleh, murah, efektif untuk mencegah dan mengobati penyakit ikan, dan relatif aman bagi ikan, lingkungan, dan manusia yang mengonsumsinya (konsumen). Selain itu, kelebihan lainnya adalah tidak menimbulkan resistensi pada pathogen.

C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dibuat rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Adakah pengaruh ekstrak daun sirih dan ekstrak daun jambu biji terhadap pengobatan ikan jelawat yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila.
2. Konsentrasi ekstrak daun sirih dan ekstrak daun jambu biji berapakah yang paling baik pengaruhnya untuk pengobatan ikan jelawat yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila.

D. Tujuan
Kegiatan PKMP ini bertujuan menentukan komposisi daun sirih dan daun jambu biji yang paling tepat untuk mengobati ikan jelawat yang terserang bakteri Aeromonas hydrophila.
E. Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah pengembangan teori baru dan hasil penelitian dalam bentuk artikel yang akan dipublikasikan pada jurnal ilmiah.

F. Kegunaan
Hasil kegiatan PKMP ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi atau bahan perbandingan bagi para pembudidaya ikan dan masyarakat umumnya, untuk mengatasi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan tanpa menggunakan senyawa kimia

G. Tinjauan Pustaka
1. Ikan Jelawat
Klasifikasi ikan jelawat menurut Ditjenkan (2004) adalah, sebagai berikut:
Ordo : Ostariophysi
Sub ordo : Cyprinoidae
Famili : Cyprinidae
Sub Famili : Cyprinidae
Genus : Leptobarbus
Spesies : Leptobarbus hoeveni
Menurut Asmawi (2007), Jelawat tergolong ikan pemakan segalanya (omnivora). Makananya antara lain adalah umbi singkong, daun pepaya, ampas kelapa dan daging-daging ikan yang telah dicincang. Diperairan umum ikan jelawat mempunyai kebiasaan berenang melawan arus menuju ke hulu (Ditjenkan, 1999).
Ditjenkan (2004) menerangkan bahwa bentuk tubuhnya yang agak bulat dan memanjang, mencerminkan bahwa ikan ini termasuk perenang cepat. Kepala sebelah atas agak mendatar, mulut berukuran sedang, garis literal tidak terputus, bagian punggung berwarna perak kehijauan dan bagian perut putih keperakan, pada sirip dada dan perut terdapat warna merah, gurat sisi melengkung agak kebawah dan berakhir pada bagian ekor bawah yang berwarna kemerah-merahan, mempunyai 2 pasang sungut.
Ikan jelawat banyak ditemui di sungai dan daerah genangan kawasan tengah hingga hilir. Bahkan di bagian muara sungai. Habitat yang disukainya adalah anak-anak sungai yang berlubuk dan berhutan dibagian pinggirnya. Anak jelawat banyak di jumpai di daerah genangan dari Daerah Aliran Sungai (DAS). Disaat air menyusut, anakan dari ikan jelawat secara bergerombol beruaya ke arah bagian hulu sungai. Ikan jelawat dapat hidup pada pH 5-7, oksigen terlarut 5-7 ppm, dan suhu 25-37o C serta diperairan yang kurang subur hingga sedang (Departemen Pertanian, 1992).
2. Daun Sirih
Sirih (Piper betie L). dari keluarga piperaceae adalah tumbuhan atau pokok renek yang memanjat dengan daun yang berbentuk lonjong lancip ke bawah (Herba & Petua Tradisional, 2009).
Menurut wikipedia (2009), Sirih adalah nama sejenis tumbuhan merambat yang bersandar pada batang pohon lain. Tanaman merambat ini bisa mencapai tinggi 15 m. Batang sirih berwarna coklat kehijauan, berbentuk bulat, beruas dan merupakan tempat keluarnya akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai dan mengeluarkan bau yang sedap bila diremas. Panjangnya sekitar 5 – 8 cm dan lebar 2 – 5 cm. Bunganya majemuk berbentuk bulir dan terdapat daun pelindung ± 1 mm berbentuk bulat panjang. Pada bulir jantan panjangnya sekitar 1,5 – 3 cm dan terdapat dua benang sari yang pendek sedang pada bulir betina panjangnya sekitar 1,5 – 6 cm dimana terdapat kepala putik tiga sampai lima buah berwarna putih dan hijau kekuningan. Akarnya tunggang, bulat dan berwarna coklat kekuningan. Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak terbang (betlephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan chavicol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida anti jamur.
PasarInfo.com (2009) mengemukakan, di dalam dauh sirih terdapat kandungan minyak atsiri mengandung senyawa chavicol dan betlephenol. Senyawa ini memiliki daya antiseptik yang kuat dan daya bunuh bakterinya bisa sampai 5 kali lipat fenol biasa.
3. Jambu Biji
Jambu batu (Psidium guajava) atau sering juga disebut jambu biji, merupakan tanaman tropis yang berasal dari Brazil disebarkan ke Indonesia melalui Thailand. Jambu batu memiliki buah yang berwarna hijau dengan daging buah berwarna putih atau merah dan berasa asam-manis. Buah jambu batu dikenal mengandung banyak vitamin C (Wikipedia, 2009). Sehat Secara Alami (2009) menambahkan, tanaman ini sudah digunakan sejak lama untuk pengobatan tradisional terutama daun, kulit dan buahnya. Dalam daun terkandung minyak atsiri, tri terpenoid, leukosianidin, kuersetin, resin, zat samak dan minyak lemak
Menurut Hasuki (2008), Jambu biji secara taksonomi tergolong ke dalam famili Myrtaceae, genus Psidium, spesies guajava. Karena itu, dalam bahasa Latin disebut Psidium guajava, sedangkan dalam bahasa Inggris jambu biji dikenal sebagai guava. Tanaman jambu biji termasuk tanaman perdu (tinggi dapat mencapai 10 meter) yang cepat beradaptasi dengan lingkungan dan memiliki daya regenerasi yang baik. Jambu biji dapat tumbuh di segala macam iklim dan lahan pada ketinggian antara 5-1200 meter dari permukaan laut. Daun jambu kaya akan senyawa flavonoid, khususnya quercetin. Senyawa inilah yang memiliki aktivitas antibakteri dan yang berkontribusi terhadap efek antidiare. Polifenol yang ditemukan pada daun diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan.

4. Aeromonas hydrophila
Berikut adalah klasifikasi Aeromonas hydrophila (Holt et. al. 1998 dalam Veterinarian Journey, 2009), filum Protophyta, kelas Schizomycetes, ordo Pseudanonadeles, family Vibrionaceae, genus Aeromonas, spesies Aeromonas hydrophila.
Menurut Ferdy (2008), Bakteri Aeromonas umumnya hidup di air tawar terutama yang mengandung bahan organik tinggi. Ada juga yang berpendapat bahwa bakteri ini hidup di saluran pencernaan. Ciri utama bekteri Aeromonas adalah bentuk seperti batang, ukuran 1-4,4 x 0,4-1 mikron, bersifat gram negative, fakultatif aerobic (dapat hidup dengan atau tanpa oksigen), tidak berspora, bersifat motil (bergerak aktif) karena mempunyai satu flagel(monotrichous flagella) yang keluar dari salah satu kutubnya. Penyakit ini senang hidup di lingkungan bersuhu 150C-300C dan pH 5,5 – 9.
Menurut Tim Agromedia Pustaka (2003) dalam Zaifbio 2009), bakteri Aeromonas hidropilla mudah di jumpai pada musim kemarau dan penghujan, terutama dikolam-kolam yang tercemar bahan Organik. Bakteri Aeromonas hydrophilla lebih banyak menyerang ikan di daerah tropis dan daerah sub tropis di bandingkan dengan daerah yang dingin.
Aeromonas hydrophila dikenal dengan nama Bacilus hydrophilus fuscus. Bakteri ini pertama kali diisolasi dari kelenjar pertahanan katak yang mengalami perdarahan septisemia. Tahun 1936 Kluiver dan Van Niel telah mengelompokkan genus Aeromonas, selanjutnya pada tahun 1984 Popoff telah memasukan genus Aeromonas ke dalam famili Vibrionaceae. Mikroorganisme ini secara normal dapat ditemukan dalam lingkungan perairan. Aeromonas hydrophila diisolasi dari manusia dan binatang sampai dengan tahun 1950 (Veterinarian Journey, 2009).

H. Metode Pelaksanaan
1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Perikanan Pontianak, penelitian ini akan dilaksanakan kurang lebih selama 4 bulan.

2. Bahan dan Alat
a. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan jelawat ukuran 8 cm sebanyak 180 ekor, daun sirih, daun jambu biji, kultur Aeromonas hydrophila dan aquades.
b. Alat
Alat yang digunakan dalam kegiatan ini adalah akuarium 18 buah,, aerator, petri dish, mikroskop elektron, pinset, gunting, blender, gelas erlenmeyer, saringan, kertas saring, sarung tangan, tisu, waring, serokan, ember, termometer, pH test, DO meter, ball point, pensil, buku catatan, penggaris dan alat dokumentasi.
3. Variabel Penelitian
a. Gejala klinis ikan sakit
Ikan yang diserang bakteri Aeromonas hydrophila menunjukkan gejala warna tubuh menjadi gelap, kulit tubuh menjadi, nafsu makan rendah, pendarahan pada sirip dan anus, kemampuan berenang menurun, mulut sering membuka dan menutup akibat serangan pada insang, pendarahan pada organ dalam (ginjal, limpa, gelembung renang), perut menjadi buncit serta mata menonjol.
b. Tingkat kesembuhan ikan
Ikan dikatakan sembuh dari serangan Aeromonas hydrophila dengan ciri-ciri pergerakannya kembali aktif, berenangnya normal, nafsu makan bertambah dan tidak terdapat pendarahan pada bagian tubuh serta organ dalam ikan. Organ dalam diamati dengan cara membedah tubuh ikan lalu diamati dengan mikroskop.
c. Tingkat kelangsungan hidup (SR
Tingkat kelangsungan hidup diamati setiap kali sampling yang dinyatakan dalam persentase dari jumlah ikan yang hidup pada awal pemeliharaan dan sampling.
4. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan Faktorial Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 taraf perlakuan ekstrak daun sirih (S) yaitu dengan konsentrasi 0 dan 4% serta 3 taraf ekstrak daun jambu biji (J) yaitu dengan konsentasi 0, 10 dan 20% yang masing-masing perlakuan dilakukan 3 ulangan. Sesuai dengan penelitian Yuniarti (1991) dalam Majalah Intisari (2009), ekstrak daun jambu biji dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia colli dan Staphylococcus aureus dalam kadar 10%. Sedangkan menurut Hajar (2008), ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 4% dapat menyembuhkan ikan mas dari bakteri Aeromonas hydrophila sebesar 50%, sehingga kombinasi perlakuan adalah sebagai berikut:

Perlakuan A (S1J1) daun sirih 0, daun jambu biji 0
Perlakuan B (S1J2) daun sirih 0, daun jambu biji 5 %
Perlakuan C (S1J3) daun sirih 0, daun jambu biji 10 %
Perlakuan D (S2J1) daun sirih 4%, daun jambu biji 0 %
Perlakuan E (S2J2) daun sirih 4 %, daun jambu biji 5 %
Perlakuan F (S2J3) daun sirih 4 %, daun jambu biji 10 %

Model RAL yang digunakan adalah : yij = µ + τ + i + εij
Dimana : yij : Nilai pengamatan yang ditimbulkan perlakuan
µ : Nilai tengan dari seluruh perlakuan
τ : Pengaruh karna adanya perlakuan ke I
εij : Pengaruh nilai sisa
i : Perlakuan ke i
j : Perlakuan ke j
5. Prosedur Penelitian
5.1. Persiapan Penelitian
a. Sebelum melakukan penelitian persiapan yang dilakukan adalah menyediakan tempat, membersihkan wadah, mengisi air 10 liter setiap wadah dan memasang aerator pada akuarium penelitian.
b. Bakteri Aeromonas hydrophila diperoleh dari hasil pengkulturan (biakkan) yang dilakukan oleh Pusat Karantina Ikan Kelas I Supadio. Sedangkan daun sirih dan daun jambu biji diambil ekstraknya dengan cara, daun dicuci bersih dan dikeringkan pada suhu 60 °C selama 20 jam menggunakan oven. Sesudah kering digiling (dihaluskan) menggunakan blender, kemudian disaring dengan ayakan. Daun yang sudah menjadi bubuk ditimbang sesuai dengan konsentrasi perlakuan dan untuk tiap perlakuan dilarutkan dengan akuades 60 ml (panas) sambil diaduk selama 10 menit, didiamkan sampai dingin dan disaring dengan kertas saring maka ekstrak daun sirih dan daun jambu biji siap digunakan dengan bentuk pasta dan kental (Yulita, 2002 dalam Nuriman, 2006).
c. Pemberian ekstrak daun sirih dan ekstrak daun jambu biji pada setiap perlakuan harus tepat dengan megetahui banyak air dalam wadah, air yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 10 l/akurium. Jadi, konsentrasi ekstrak daun sirih dan daun jambu biji dikalikan dengan volume air (l) di dalam wadah.
5.2. Pelaksanaan Penelitian
Ikan uji dimasukkan dalam akuarium dengan volume air 10 l/wadah dan jumlah ikan setiap akuarium 10 ekor yang sebelumnya telah diinfeksikan bakteri Aeromonas hydrophila. Ikan yang digunakan adalah ikan jelawat berukuran 8 cm. Ikan uji diinfeksikan bakteri Aeromonas hydrophila dengan cara ikan jelawat dilukai bagian pangkal ekor menggunakan pisau bedah dengan panjang dan lebar kurang lebih 1mm. Ikan yang telah diinfeksi dimasukkan ke dalam wadah penelitian selama 7 hari agar bakteri Aeromonas hydrophila benar-benar menginfeksi ikan uji. Bubuk daun sirih dan daun jambu biji ditimbang sesuai dengan konsentrasi perlakuan, kemudian masing-masing perlakuan dicampur akuades 60 ml (panas) sambil diaduk hingga rata dan disaring dengan kertas saring. Hasil penyaringan berbentuk pasta dan kental dan merupakan ekstrak dari kedua bahan tersebut. Pengobatan ikan jelawat dilakukan dengan melarutkan ekstrak daun sirih dan daun jambu biji ke dalam wadah penelitian. Ikan yang diserang bakteri Aeromonas hydrophila diamati dengan melihat dari ketidak normalan tubuh dan kelainan tingkah laku ikan yang dilihat secara visual. Untuk mengetahui tingkat kesembuhan ikan dapat diketahui dengan pengamatan langsung organ tubuh bagian luar dan dilanjutkan dengan pengamatan organ-organ dalam mengunakan mikroskop dengan cara dibedah.
7. Analisis Data
Data kelangsungan hidup sebelum dianalisis terlebih dahulu diuji kenormalannya dengan Lilifefors.
Selanjutnya data yang telah diuji kenormalannya tersebut dibagi lagi kehomogenannya dengan menggunakan uji homogenitas Ragam Barlet.
Apabila dinyatakan tidak normal atau homogen, maka sebelum dianalisis keragaman dilakukan transformasi data. Bila data sudah normal atau homogen, maka dapat langsung dianalisis keragamannya dengan sidik ragam.
Keterangan :
1. Jika F Hitung > F tabel 1 % berarti perbedaan perlakuan sangat nyata
2. Jika F Hitung 5% < F hit < F tabel 1% berarti perbedaan perlakuan nyata
3. Jika F Hitung < F tabel 5% berarti perbedaan perlakuan tidak nyata
Jika analisis berbeda nyata maka perhitungan dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil) dan Beda Nyata Jujur (BNJ). Sebelum uji ini dipergunakan, terlebih dahulu dilakukan perhitungan koefisien keragaman.
Apabila analisis berbeda nyata perhitungan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT).
8. Cara Penafsiran dan Penyimpulan Hasil Penelitian
Cara penafsiran dan penyimpulan hasil penelitian dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari pengamatan organoleptis maupun dengan penelitian secara kualitatif dan kuantitatif.